Manfaatkanlah Waktu sebaik-baiknya karena Waktu Tak Akan Pernah Terulang

WIB WITA WIT

Melihat Waktu



Sebuah jam melekat erat di salah satu dinding rumahku. Bentuknya bundar dan terbingkai indah dengan garis merah yang tebal. Jarum panjang kecil merah itu bergerak maju tanpa henti, pelan namun pasti. Dia terus maju sampai ajalnya tiba dan ketika dia diberikan sebuah ruh yang baru, dia pun mulai lagi berjalan maju ke depan dan ke depan, tidak pernah ke belakang.

Waktu. Dua belas angka yang ada dalam sebuah jam waktu terlihat begitu jelas. Putaran jarumnya yang pasti adalah waktu. Detik, lalu menit, lalu jam, lalu hari, lalu minggu, bulan, windu dan seterusnya.

Sudah satu jam aku melihat jarum merah itu berputar dengan diam tanpa gerak. Mataku tertuju pada setiap detik bunyi yang dikeluarkan jarum itu. Sangat pasti dan jelas. Dan waktuku terbuang tanpa apa-apa.

Ungkapan mereka tentang waktu; 24 jam itu kurang, waktu itu berjalan cepat, waktu itu emas dan sebagainya. Adalah merupakan ungkapan bukan tanpa alasan. Benar adanya jika waktu itu emas, karena di setiap detik itu adalah kesempatan. Jika waktu itu berjalan cepat, itu karena kita lupa waktu. Padahal waktu itu berjalan perlahan dan pasti tanpa henti. Jika 24 jam itu kurang dalam sehari, tidak benar.  Karena 24 jam itu takaran paling seimbang yang Allah berikan, hanya saja kita tidak bisa membaginya dengan baik.

Melihat waktu. Lihatlah sekelilingmu! Teman sebayamu, yang dulu duduk berdampingan di bangku sekolahmu, sekarang sudah beristri, sudah berkerja dengan rajinnya, sudah berpenghasilan, sudah membangun rumah dan seterusnya. Dinding rumahmu, yang sekarang tidak sekuat dulu, warnanya yang telah memudar, dan kayunya pun sudah melapuh. Wajah ayahmu, yang dulu muda sekarang bertambah kerut di dahi dan pipinya, ototnya yang kuat dulu sekarang berkurang kuatnya, rambutnya yang hitam dulu sekarang putih merona. Tidakkah ini waktu? Waktu yang telah berlalu.

“Sebaik-baik umur adalah yang panjang lagi bermanfaat.” Pernah dengar ungkapan ini? Rasulullah yang mengatakan ini. Kita sering berdoa, ya Allah panjangkanlah umurku. Dengan alasan, kebaikanku masih sedikit, tanggung jawabku belum tunai, dan lain-lain. Takut mati, tidak perlu jika umur yang telah kita jalani penuh dengan manfaat. Berbeda halnya mereka yang selalu meminta umur panjang tapi tidak memanfaatkan umurnya dengan sebaik-baiknya.

Waktu, sudah berapa waktu kita yang telah berlalu dan menjadi abu?  Mengucapkan satu sholawat hanya membutuhkan kurang lebih 4 detik. Mengucapkan tasbih, subhanallah hanya 2 detik. Begitu pula takbir, tahmid, dan lainnya. Sayangnya, kita terperdaya oleh bisikan syetan dan kawan-kawan. Padahal satu ucapan subhanallah itu adalah sebuah kebaikan. Sebuah kebaikan itu ganjarannya berlipat 10 sampai pada 700 ganjaran. Kurang lalai apa kita?

Iya, duduklah dengan manis, tidurlah sepanjang hari di atas singgasanamu yang fana, hisap terus rokokmu sambil ditemani kopi panas, berbicaralah kesana-kemari dan tertawalah sekeras-kerasnya. Anggaplah waktumu itu panjang dan masih ada hari esok untuk berbenah. Siapa yang tahu sepuluh menit yang akan datang nyawa kita sudah tidak bersama kita lagi? Seorang mukmin itu selalu siap untuk mati, kapanpun dimanapun. Mari kita tutup umur kita dengan kebaikan.(http://evinurliza.blogspot.com/2012/08/melihat-waktu.html)
[Read More...]


Motivasi: Siapa Aku Yang Sebenarnya?



Aku akan selalu menemani kamu dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun kamu.
Aku adalah dewa penolongmu yang terkuat, namun aku juga beban yang sangat berat untukmu.
Aku selalu dan sepenuhnya mematuhi perintah yang kamu berikan.
Aku akan membawa kepada puncak tertinggi dan aku akan membawamu ke jurang terdalam.

Aku bukanlah mesin, walaupun kinerjaku bak mesin yang dibumbui kepintaran manusiaa.
Aku mudah diatur, tunjukkanlah kepadaku bagaimana persisnya kamu menghendaki
sesuatu dikerjakan dan setelah beberapa kali aku akan mengerjakannya secara
otomatis.

95% pekerjaan yang kamu berikan akan ku kerjakan dengn tepat sekaligus cepat.

Aku adalah bawahnnya orang hebat, tapi akupun bawahannya orang pecundang. 
Aku senang membawamu pada keuntungan namun akupun senang melihatmu dalam kehancuran.
Latihlah aku, disiplinkanlah aku, aku akan membawakan dunia ini kebawah kakimu

Siapa kah aku?. " KEBIASAAN"

Dengan kebiasaan baik akan membawamu ke dunia orang-orang hebat.
Kebiasaan yang baik akan membawamu kepada sesuatu yang kamu impikan dalam waktu yang cukup singkat

[Read More...]


Motivasi: Hidup Ini Mudah



Seorang petani perkasa yang sedang santai didepan rumah dengan istri dan seorang tamu berkata pada anaknya

Petani: Nak, sana pergi kesawah dulu
Tamu : Tidak usahlah menyuruh anakmu kesawah dan bekerja keras, toh tanamanmu juga akan tumbuh seubur
Petani: Aku bukan sedang memupuk tanamanku tapi aku sedang memupuk anakku agar bisa tumbuh menjadi seorang yang hebat.

- Merawat anak bukan dengan memanjakan mereka, bukan juga hanya memberikan tempat tinggal, makan dan pakaian. Tetapi bimbinglah mereka agar bisa tumbuh dengan baik dan memahami pekerjaan. Dengan mengerti pekerjaan si anak akan menjadi seorang pekerja keras dan seorang pekerja keras identik dengan seorang yang hebat."

Suatu ketika terlihat sekerumunan orang sedang saling berdesakan untuk melamar pekerjaan.Datanglah seorang pelamar A dengan wajah penuh keringat menghampiri salah seorang yang terlihat rapi B
A : Saya belum terlambat kan?
B : Hampir saja kamu telambat, eh ngomong-ngomong ipkmu berapa?(sambil belagak sombong)
A : Dikit banget, hampir aja aku ga memenuhi persyaratan disini, 2,76
B : Hah??kamu nekat ya? aku aja yang IPK 3,6 ga masuk 20 besar
A : gpp, barangkali aja aku masuk

Sambil berjalan menelusuri lorong A dan B berbincang-bincang tentang masalah pekerjaan yang akan mereka lamar. Tiba-tiba si A berhenti karena melihat puntung rokok dan gelas bekas minuman yang sudah kotor tergeletak begitu saja di pinggir lorong.

A : Bentar yaa..
B : Mau kemana?
A : Itu mw ngambil sampah yang disana
B : Buat apa? kotor tau, lagian nanti juga ada yang bersihin
A : Udah biar aku aja

Tak disangka-sangka hal yang dilakukan pelamar A dilihat oleh salah seorang petinggi perusahaan dan alhasil Pelamar A yang IPKnya jauh lebih rendah dari pada B masuk perusahaan ternama itu sedangkan B langsung tersingkir

Tidak selamanya nilai menjadi patokan utama yang dilihat orang-orang. Dengan memelihara kebiasaan yang baik, orang akan menghargai dengan apresiasi maupun penghargaan yang tidak kamu sangka-sangka
[Read More...]


Buat Apa Kalian Kuliah?



Ketika aku ditanya oleh seseorang hebat di kampusku, Buat apa kamu kuliah?. 
" Mau Buat Gaya-gayan? gue kuliah di Universitas ternama", 
"mau gaet cewek yang banyak?", 
"Apa mau main-main?"
Buatku ini masih sangat membingungkan walaupun saat aku mau masuk kuliah aku punya tujuan yang harus aku capai. "Mencari ilmu dan pengalaman yang aku capai". 
Ada pula yang menjawab "aku ingin membahagiakan orang tua saya dikampung karena saya bukan seorang yang terlahir dari orang yang berlebih harta"


"apa hanya itu tujuan kalian?"
" itu bukan jawaban yang saya inginkan, kalian itu mahasiswa. Jawaban seperti itu ga mencerminkan kamu sebagai seorang Mahasiswa"
"Kamu itu sudah menjadi mahasiwa, siswa paling tinggi, paling hebat"
"Kalian orang-orang terpilih dari sekian juta rakyat Indonesia yang ingin kuliah, menggunakan almamater yang menjadi kebanggaan kalian"
"Apa Kalian Bangga dengan logo ditengah almamater kalian?"


Kurenungkan sejenak kata-kata senior yang juga mantan ketua BEMUniversitas. Berpikir lebih jauh dan mendalam, memang benar yang yang dikatakan Si Ketua BEM.
Kalau hanya ingin mencari ilmu, apa harus kuliah dengan menghabiskan uang berjuta-juta rupiah?Untuk masuk kuliah miniman 2 juta rupiah per semester dan jika kita lulus kuliah selama 8 semester kita menghabiskan 16 juta. Itu hanya untuk membayar biaya per semester, tugas, trasportasi, makan, juga kost belum masuk hitungan. 
Kalian kebayang tidak, dengan uang sebanyakn itu berapa ratus buku yang bisa kalian beli?? berapa banyak ilmu yang kalian dapat? so Buat Apa Kuliah?


Sebenarnya, saat kita beranjak dari satu tahun ke dua tahun, dari Sekolah Dasar ke SMP dan dari SMP ke SMA kita telah belajar sesuatu. Hal yang lebih dahsyat dan lebih hebat dari pada ilmu ilmu yang kalian dapat.

"MINDSET". Coba menoleh sedikit kebelakang. Apa yang kamu lakukan ketika kamu masih SD? Belajar hitung-hitungan, belajar membaca, dan bermain. Apa sama saat yang kamu lakukan ketika kamu SMP?

Ketika SD kamu tidak pernah memikirkan, apa yang harus aku lakukan besok? apa yang akan terjadi di masa depan kalau aku begini?
Ketika SMP kamu mulai mengenal tujuan hidup. Yang harus dilakukan besok dan apa yang terjadi dimasa depan.
Secara alami, kalian telah belajar tentang hal yang sangat penting dalam hidup. Mindset kamu.kamu telah berubah dengan sendirinya.So buat apa kuliah?

Mengutip dari http://ridwansyahyusufachmad.com/2012/06/19/buat-apa-sih-kuliah-jangankuliah/

Sobat, kata rektor saya dulu, biaya standar untuk seorang sarjana teknik adalah Rp.28.000.000 setiap semesternya. Jumlah yang yang gak kecil loh, coba saya tanya berapa biaya kuliah? Dulu saya di Itb 1.850.000 per semesternya. Kabarnya sekarang sudah mencapai hingga 5 juta rupiah per semesternya. Okelah kita pakai standar sekarang saja, dan dengan asumsi biaya sarjananya tetap.
Dengan asumsi ini saja saya bisa mengatakan kalau dalam satu semester, minimal kita sudah memiliki hutang 23 juta per semesternya. Hutang? Pasti banyak yang bertanya, itu hutang ke siapa? Hutangnya ke Rakyat Indonesia kawan. Mereka yang bayar pajak itu telah mensubsidi kuliah kamu, khususnya buat kamu yang kuliah di kampus negeri.
Pendidikan yang berkualitas itu hakekatnya memang mahal, pertanyaannya siapa yang akan menanggung biaya pendidikan tersebut? Dalam kasus Indonesia, rakyatlah yang juga dibebankan untuk membiayai kuliah kita.
Saat pertama kali masuk ITB beberapa tahun yang lalu, seorang alumni yang sangat senior berbicara dalam sebuah sesi seminar.
“untuk masuk ITB, perbandingan tingkat kompetisinya adalah 1 banding 20. Artinya ketika kamu bahagia karena telah masuk ITB, ada 19 anak muda Indonesia lain yang menangis kecewa karena gagal diterima di ITB.
Kamu kuliah di subsidi oleh rakyat, maka untuk membalas budi pengorbanan uang yang telah rakyat berikan, kamu minimal harus bisa kasih makan ke 76 orang lainnya. Darimana angka 76 tersebut?
Kita asumsikan 19 orang tersebut menikah dan memiliki dua anak saja, maka itu berarti 19 dikali 4 yaitu 76 orang”
Kata-kata tersebut selalu terngiang di benak saya hingga saat ini, saya selalu berpikir dan mencari jalan bagaimana bisa membuka kesempatan menambah penghasilan bagi 76 orang. Tentu bukan hanya dengan membuka lapangan kerja dengan menjadi entrepreneur, banyak cara untuk bisa berbagi seperti dengan aktivitas sosial.
Bagaimanapun caranya, itulah yang perlu kita sama-sama pikirkan. Bahwa kamu jadi mahasiswa itu tidak mudah dan tidak bisa asal-asalan. Kamu perlu tanya ke diri kamu, “saya mau berkontribusi apa selama jadi mahasiswa dan setelah lulus untuk negeri ini?
Karena kuliah kamu bukan hanya menyangkut diri kamu, tetapi juga ratusan juta rakyat Indonesia di masa kini dan masa depan. Mahasiswa seringkali disebut sebagai unsur perbaikan negara, ya benar adanya kalimat tersebut. Karena ditangan mahasiswa yang nantinya akan masuk ke dunia nyata lah negeri ini bergantung harapan.
Kamu kuliah, kamu termasuk dalam 18% rakyat Indonesia usia 18-23 tahun yang beruntung bisa menikmati bangku di perguruan tinggi. Jumlahnya tidak sampai 4.5 juta saja mahasiswa itu. Maka renungkanlah nasih 78%  rakyat Indonesia lainnya yang
Karena kamu itu mahasiswa, ada kata MAHA di depan siswa. Maha itu identik dengan tidak terbatas dan tidak pernah habis. Perlu di ingat, bahwa penggunaan kata MAHA itu identik dengan sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan (e.g Maha Pengasih,dan Maha Penyayang). Menariknya bahasa Inggris nya dari Mahasiswa adalah student, atau terkadang ditambahkan College Student. Bahasa arabnya mahasiswa adalah thulabiy, sama dengan siswa. Mereka tidak menggunakan terminologi Great Student atau AkbaruThulabiy sebagai kata ganti mahasiswa.
Hanya di Indonesia yang menggunakan pola kata seperti ini. Kenapa? Karena ada sebuah harapan khusus bagi mahasiswa Indonesia untuk bisa memiliki karakter seorang MahaSiswa, seorang yang tidak pernah terbatas hasratnya untuk bisa menuntut ilmu.
Dalam sebuah lirik lagu perjuangan kampus yang berjudul “Kampusku”, sang pengubah lagu menuliskan seperti ini;
Berjuta Rakyat Menanti Tanganmu
Mereka Lapar dan Bau Keringat
Kusampaikan Salam Salam Perjuangan
Kami Semua Cinta Indonesia
Tapi kamu juga jangan terlalu Geer dulu dengan segala sanjungan untuk mahasiswa, itu gak sekeren itu kok, kadang malah cuma klise belaka. Saya malah berpikir terlalu banyak pujian untuk seorang yang menyandang label mahasiswa. Padahal jadi mahasiswa gak sekeren itu kok, apa sih mahasiswa? Belajar males, kajian kebangsaan cuek, demo di jalan gak mau, kegiatan pengembangan masyarakat juga gak peduli, bahkan fokus pada kompetensinya saja juga enggan.
Apa sih mahasiswa itu? Cuma mampu mejeng dengan tampang keren, sok bawa mobil ke kampus padahal uang orang tua. Bergaya sana sini, ganti pacar tiap bulan, gak nyimak dosen di kelas, ke kampus dandannya udah seperti mau ke resepsi pernikahan.
Ngapain sih tuh mahasiswa? Selama empat tahun di kampus akhirnya gak aplikasi ilmunya, berpikir gimana ngasih makan dirinya saja, lupa kalau dia di bayarin rakyat saat kuliah, jadi manusia hedon yang lupa kalau masih banyak rakyat yang lapar dan bau keringat.
Ah mahasiswa, apa pentingnya? Cuma bisa kritik keadaan negeri tanpa mau berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk negerinya. Hanya ribut diantara mahasiswa, bakar ban dan akhirnya rakyat lagi yang kembali menderita.
HEI KAMU YANG MENGAKU MAHASISWA !
Coba sekarang saya tanya buat kamu yang mau lulus kuliah, buat apa sih kamu kuliah? Abis kuliah mau kemana?
‘ikutin aja kemana angin membawa’
‘yah kita lihat nantilah gimana abis wisuda’
‘mau kerja dulu deh, sambil mikir mau ngapain setelahnya’
Umm. Okey, tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat tersebut. Tetapi kalimat-kalimat ini menandakan masih banyak diantara mahasiswa dan alumni muda yang bahkan tidak tau mau ngapain setelah lulus.
Helloooo
Dimana #panggilanjiwa kamu kawan? Masih belum berjumpakah dengan #panggilanjiwa kamu itu? Atau bahkan kamu tidak berusaha mencarinya?
Sobat,apakah dunia kampus belum cukup untuk kamu dalam mem-#bangunmimpi? Butuh berapa lama lagi untuk kamu agar bisa menemukan dan merencanakan mimpi besar kamu sobat? Atau jangan jangan kamu lebih nyaman dalam ketidakpastian mimpi kamu?
Mereka yang tidak punya mimpi akan terjebak pada kegalauan hidup, dan bila kegalauan hidup menemani mereka maka ketidakpastian akan menjadi sahabat, dan akhirnya berujung pada ketidakjelasan manfaat hidup itu sendiri.
APA KONTRIBUSI KAMU UNTUK NEGERI?
Percuma saja kamu kuliah kalau ternyata pilihan jurusannya bukan yang kamu minati, bohong dengan #panggilanjiwa hanya untuk mengejar titel di kampus negeri saja. Hidup itu bukan sekedar titel kamu di dapat dimana, tetapi kamu mau berbuat apa dengan titel tersebut untuk kebaikan dan kebermanfaatan.
Kamu pikir jadi alumni dari kampus beken itu terjamin masa depannya kawan? Saya justru banyak kenal teman, senior, dan junior saya di kampus yang luntang-luntung gak jelas karena penuh kegalauan dalam menatap masa depan. Mereka tidak membangun karakter diri selama jadi mahasiswa. Akibatnya? Hidup segan, Mati enggan.

Lantas, apa yang bisa dibanggakan ketika setelah lulus hanya menjadi sekrup kapitalis yang menghambakan diri pada uang dan rela ketika sumber daya negeri ini dikeruk untuk kepentingan asing semata. Apa kalian lupa kalau kalian kuliah disubsidi oleh negara? Uang rakyat itu kawan? Hasil pajak mereka yang berharap negeri ini lebih baik.
Buat saya, percuma belajar mati-matian masuk perguruan tinggi kalau ujung-ujungnya hanya memetingkan isi perut belaka dan tidak mampu berkontribusi untuk bangsa. Sayang banget kawan, bila 4-5 atau bahkan 6 tahun kuliah pada akhirnya hanya menjadi perusak negeri, yang serakah atas kebutuhan dunia.
Atau lebih sadis lagi mereka para koruptor yang menghabiskan hidup untuk merusak moral sosial bangsa. Seharusnya mereka mereka inilah yang di klaim oleh Malaysia bukan budaya Indonesia.
Rakyat negeri ini membiayai kamu kuliah bukan hanya untuk mendapatkan IPK Cum Laude atau terancam Cum Laude. Yakin nih yang IPK nya 4.00 itu benar-benar cerdas? Jangan-jangan mereka cuma seorang robot yang jago menyelesaikan soal ujian, tetapi gamang dalam menghadapi soal kehidupan.
Kamu kuliah di kampus teknik, jadilah teknokrat yang visioner. Kuliah di fakultas hukum, jadilah advokat yang adil. Belajar di jurusan ekonomi, maka jadilah ekonom yang bijak. Atau bila kamu kuliah di kampus pertanian, bangunlah negeri ini dengan ilmu pertanian yang kamu miliki, jangan mangkir dari kompetensi dan malah berpikir untuk menjadi bankir.
Kuliah itu mahal kawan, setau saya di UI sudah Rp.25.000.000, di ITB bahkan ada yang mencapai Rp.50.000.000. Biaya per semester juga sudah semakin besar, lalu apa yang kamu cari setelah lulus? Hanya bekerja sebagai pegawai kah pilihan hidup kamu?
Masih banyak anak muda Indonesia yang tidak kuliah. Atau alumni kampus yang katanya beken dan akhirnya memilih untuk bersaing dalam job fair dengan alumni kampus yang katanya ga beken? Gak malu ya sobat?
Yuk kita berpikir #beda , jangan berpikir “mau kerja di perusahaan apa”, melainkan “mau buka lapangan kerja dimana ya”
Saya sering bilang ke mahasiswa ITB, buat apa kamu bangga masuk ITB kalau hanya bisa jadi mahasiswa KUPU KUPU alias kuliah pulang kuliah pulang. Mending kamu sekalian aja pulang ke rumah orang tua kamu. Karena kita kuliah bukan hanya untuk mengejar nilai, kita kuliah untuk menikmati proses pembelajaran diri dalam setiap kesempatan.
Malu lah pakai jaket kuning UI yang katanya keren itu kalau gak peka sama isu sosial masyarakat, hanya mengenal kuliah-kafe-mall saja. Helloo kawan, itu jaket kuning lambang perjuangan, apa kontribusi kamu untuk negara. Kalau kamu sudah berkontribusi untuk negeri, barulah boleh sedikit bangga dengan jaket kuning kamu sobat!
Atau mahasiswa UGM yang terkenal dengan jaket warna karun goni, itu warna kerakyatan, maka segen saya lihat mahasiswa UGM kalau melihat dan memikirkan realita rakyat aja gak mau. Jaket mu itu bukti pengorbanan sobat!
Malu lah gw jadi mahasiswa kalau sepanjang masa kuliahnya gak pernah demo di jalan
Ah capeklah kuliah itu kalau hanya mengejar Nilai tetapi anti sosial, menjadi manusia robot yang bangga jadi sekrup kapitalis.
Buat kamu yang baru lulus SNMPTN atau segala bentuk ujian masuk perguruan tinggi lainnya. Berani janji kontribusi apa selama jadi mahasiswa? Atau udah cukup bangga dengan label mahasiswa?
Masuk jurusan kedokteran kampus beken, tetapi gak mau praktek di daerah terpencil, hanya mau jadi dokter di kota. Hmm percuma deh, di kota di daerah daerah aja masih kekurangan dokter, di kota dokter menumpuk. Hmm mendingan mundur deh.
Ayolah kawan! Kita MAHAsiswa, ada kata Maha di depan siswa, masa masih sama sama aja konsep berpikirnya dengan mereka yang tidak sekolah. Malu la kita sama tukang bakso yang bisa punya 3 pegawai, mereka yang tidak kuliah aja bisa ngasih makan orang lain, lah mahasiswa? Bangun Idealisme itu kawan, sejak mahasiswa, kesempatan terakhir untuk membangun idealisme itu ada di kampus. Setelah lulus, kalian akan menikmati dunia nyata yang sangat kejam dan pragmatis.
Hidup itu bukan hanya tentang duit, duit, dan DUIT.
Mahasiswa itu #beda!
Yuk kita bangun konsep berpikir yang dewasa. Jangan bangga ke kampus pakai mobil orang tua untuk mejeng sana sini dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar, manja dalam belajar serta lemah karakter. Percuma nanti di hari wisuda, para alumni itu hanya menambah daftar pengangguran negeri ini, buat apa kamu kuliah sobat?
Sobat, mari kita maknai dengan #bijak kenapa kita harus kuliah. Ini bukan hanya sekedar mengikuti kebiasaan banyak orang. Tetapi ini tentang upaya membuat diri kita lebih mampu berkontribusi untuk pembangunan bangsa.
Sobat, kamu mau berkontribusi apa selama kuliah?
“Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”
-Ki Hajar Dewantara 


[Read More...]


Bayipun Mulai Bicara



Di tengah malam sunyi berselimut badai, lampu-lampu lorong masing menyala dengan terangnya. Kamar-kamar yang penuh manusia menyala dan semakin bergejolak. Kamar-kamar yang tertutup dengan nuansa hangat. Walaupun tiada suara, ada interaksi diantara mereka.

Disebuah rumah sakit, disudut paling kiri lorong itu. Diruang anak-anak tanpa dosa, terlihat kilauan cahaya ketika mereka terbangun dari mimpi-mimpinya. Sang bayi yang belum bisa bicara ini, telah mengerti betapa kerasnya dunia ini, betapa menyedihkannya oran-orang bumi ini.

Sang bayi tanpa dosa, terpancar senyuman betapa senangnya dia hadir disini. " Aku senang sekali, aku terlahir dari buah sayang dan cinta papah mamahku"

"Waah..kamu sangat beruntung kawan. Saat aku lahir aku tidak tahu siapa ayahhku", sahut bayi yang berada di dua ranjang sebelah kanannya

" ayahku meninggalkan mamahku saat aku ada dirahim ibuku"
"kawan, bukankah tadi pagi kalian lihat?, ada bayi yang bahkan belum bisa menikmati dunia ini telah kembali lagi pada-Nya?"
"sungguh malang dia"

" Kita sangat beruntung kawan, kita telah lahir di dunia ini dan hidup dengan normal, diluar sana sudah banyak kawan-kawan kita yang tidak perlu susah payah keluar dari rahim ibu, sudah ada dokter yang bisa mengoperasi cesar".

" Kalian tahu tidak, diluar sana banyak hal yang sangat mengerikan, Di sana banyak pasangan yang hanya mau proses membuat kita saja, tetapi saat kita telah hadir dalam rahim ibu, mereka tidak menginginkan kita. Ibu yang seharusnya menjadi tempat buat kita mendapatkan kasih sayang, justru mengingkan kita tidak lahir dalam keadaan bernyawa, mereka sering kali menggugurkan kita saat kita berumur 3 bulan, SUNGGUH MEREKA SANGAT KEJAM"

" Banyak juga diluar sana yang hanya memberikan sodara kita yang lain dengan susu sapi. Mereka tidak mau menyusui kita karena takut kehilangan tubuhnya yang indah. Apa ibu-ibu disana tidak ingin ada ikatan yang kuat antara anak dan ibu? kita sebenarnya anak ibu apa anak sapi?

" Aku sangat bingung ketika dilahirkan didunia ini, apakah kelak orangtua yang melahirkanku akan menyayangiku dengan penuh kasih dan sayang?"
"Mengapa air mata ibuku tidak berhenti-hentinya menangis?"
"kemana aku harus mencari ayahku kelak?"

" kalian sudah memikirkan masa depan ya?, kalian sungguh beruntung. lihat aku kawan, tubuhku yang cacat ini. Bahkan akupun tidak tahu dengan kondisiku yang seperti ini, sekarang orang tuaku menyayangiku atau tidak?"

" Memang kita tidak boleh memilih seperti apa kita dilahirkan dan ditempat mana kita dilahirkan, andai boleh memilih aku pengen dilahirkan di tempat orang yang kaya. Aku yang dilahirkan oleh keluarga miskin seperti ini, tidak tahu apa aku bisa keluar dari rumah sakit ini?"

" Aku iri dengan kalian yang lahir dari orang-orang yang suci. Lihatlah aku, aku dalam inkubator ini. Karena mamahku peminum kelas berat, juga perokok, aku harus disini dan tidak tahu kapan keluarnyaa"..

"aaahhh pusing,, apa esok orang tuaku sayang padaku?"
"apa aku bisa keluar dari tempat ni?
".......bagaimana dengan tubuhku yang cacat ini..""

puuusssiiiinnnnnnnnnnnggggggggggg............................aaaaaaaaaaaaaaaaaa

Ditenga kegalauan para bayi, sosok bayi yang dari tadi tenang, kini bercahaya.

" Tenanglah kawan. Hidup adalah perjuangan. Dari siapapun, dari orang yang seperti apapun dan dilahirkan dengan kondisi apapun, kita dilahirkan sama, kita bersih, suci dan kita punya pontensi yang sama."
"ingat kawan, kita punya tujuan hidup masing-masing yang harus kita perjuangkan"
" Bersyukurlah kalian telah terlahir di dunia ini. Jangan sia-siakan hidup kalian dengan penyesalan dan meratapi diri"
"Berjuanglah untuk menggapai mimpi-mimpi kalian"
[Read More...]


Telfon Mamah



Sarnem adalah sosok wanita lugu, wanita desa yang mengadu nasib kekota. Suatu hari ditengah malam yang sunyi, Sarnem merasakan rindu yang sangat bergejolak didalam dirinya kepada sang mamah tercinta. Sarnempun memutuskan untuk pergi kewartel dan menelpon mamahnya.

Sampainya di wartel sarnem bertemu dengan joe si penjaga warnet itu.

Sarnem  : Mas, saya mau make telfonnya sebentar saja, tetapi uang saya sudah habis

joe        : Adduuuhhhhh... mana boleh mba, nanti usaha saya bangkrut lagi

Sarnem  : Plisss,, mas, bentar saja, ini penting banget, saya mau telfon mamah saya yang ada di kampung

Joe       : Wah.. itu masalah pribadi mba, kalo mw telfon ya tetep harus bayar

Sarnem : Tolonglah mas, ini penting banget. Saya mw deh ngelakuin apa aja buat bisa telfon mamah saya

Joe terdiam di tengah percakapan, dan munculah suatu ide yang brilian

Joe       : Oke, saya bisa bantu, akan tetapi mba mesti ngikuti yang saya mau, gimana?

Sarnem dengan sedikit ragu dan bingung menganggukan kepala dengan senyum
joe pun mengajak sarnem kebelakang.

Joe       : mba harus jongkok

dengan wajah polos dan tak mengerti, sarnem pun jongkok di hadapan joe. Joe mulai membuka celananya dan mengeluarkan si " Burung Nakal " tepat di hadapan sarnem.

Joe       : Ayoo mba, ini udah siap


Sarnempun mulai memegang " Burung Nakal " milik joe yang sudah mengeras. Joe yang sudah dipuncak birahi sudah tidak sabar lagi

Joe       : cepetan mba, ayooo.. Mau telfon engga?

dengan tangan gemetar dan wajah kebingungan Sarnem pun mulai berkata " Haloo,, ini simbok ya??, Lagi apa mbok? Sarnem kangen simbok ni"

Walaupun kamu dari desa, janganlah kamu sepolos Sarnem yang mudah dikadali. Cobalah berpikir logis dalam bertindak.



[Read More...]


Tante Dan Brondong



Jaman edan seperti sekarang ini, seringkali terlihat hal yang ganjil, seperti laki-laki yang cantik ( sering orang bilang : banci kaleng), orang tua bersama anaknya yang mengemis di jalanan (tega banget tuh ortu) dan yang aneh laki banyak tante-tante yang suka sama brondong. Dan Yang unik aneh kembali akan di bahas di jam berapa blog. Kali ini, akan membahas hal yang sedang sangat popular yakni Kenapa si tante suka brondong?brondong manis gituu

Makna awal dari tante dan brondong:

Tante : Adik perempuan dari orang tua kamu

Brondong : Anak yang masih kecil

Apa si Sebab Brondong suka tante?

Ini hampir terjadi pada setiap anak kecil. Di sadari atau tidak sering kali seorang anak kecil lebih nurut dan suka pada tantenya dari pada ke orang tuanya. Kenapa?

- Karena sebagian besar tante lebih sayang dan mengerti pada kamu
Saat tantemu datang kerumah dia akan membawakanmu banyak oleh-oleh entah itu mainan maupun makanan.
Saat kamu datang kerumah tantemu, hidangan enak-enak akan tersedia di meja makan. Mereka menganggap tante mereka jauh lebih baik ketimbang orang tuanya, karena rasa sayang yang berlebih.

Inget waktu kamu-kamu meminta mainan di toko? Sering kali orang tua kamu melarang dan menyeret kamu dari toko mainan (pengalaman pribadi nih). Sambil merengek-rengek kamu tidak di belikan mainan, dan pulang dengan tangan hampa ataupun di belikan mainan yang tidak kamu sukai (karena harganya lebih murah)
Bandingkan saat kamu pergi bersama tantemu. Kamu melihat mobil-mobilan yang besar, baguus, mengkilap dan mahal. Kamu bilang “ Tante, beliin mobil-mobilan itu?”. Pasti si tante akan langsung membelikannyua buat kamu. Ini rasa sayang yang berlebihan dari tante kamu, mungkin juga karena tantemu tidak enak pada orang tua kamu.

Yang sebenarnya, kamu semestinya paham alasan kenapa orang tua kamu tidak membelikan mainan itu. Itu semua karena ortu kamu pengen kamu lebih bisa berhemat dan mengatur keuangan dengan baik serta menghargai uang. Mencari uang itu susah, mungkin kamu yang masih sekolah, yang masih hanya bisa meminta uang belum bisa mengerti betapa sulitnya mencari uang. Esok saatnya tiba, saat kamu lulus SMA atau Lulus kuliah, kamu akan merasakan kerasnya hidup beserta sulitnya mendapatkan recehan rupiah. Keringat demi keringat yang kamu cucurkan demi uang, akan terbayang saat kamu meminta dan merengek mainan mahal kepada orang tua kamu. Kamu akan tersadar betapa sulitnya mencari uang dan betapa sayangnya orang tuamu padamu.

Suatu saat nanti kamu akan tau betapa orang tuamu sayang dan peduli ke kamu


[Read More...]


Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors